Home » Endang Suryana » Pertemuan-1

Pertemuan-1

Bahasan utama kita pada pertemuan pertama ini adalah :

  1. Memahami arti tentang Etika dan Profesi
  2. Perbedaan dan persamaan antara Etika dengan Etiket
  3. Mengapa kita harus belajar Etika (Profesi)
  4. Prinsip-prinsip Etika
  5. Memahami jenis Etika

Pengertian Etika Profesi (professional ethics) adalah sikap hidup berupa keadilan untuk dapat/bisa memberikan suatu pelayanan professional terhadap masyarakat itu dengan penuh ketertiban serta juga keahlian yakni sebagai pelayanan dalam rangka melakukan tugas yang merupakan kewajiban terhadap masyarakat.

Secara umum, pengertian etika profesi ini merupakan suatu sikap etis yang dimiliki seorang profesional yakni sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam mengembang tugasnya dan juga menerapkan norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) didalam kehidupan manusia.

Etika profesi atau juga kode etik profesi ini sangat berhubungan dengan bidang tertentu yang berhubungan dengan masyarakat atau juga konsumen dengan secara langsung. Konsep etika profesi itu harus disepakati bersama oleh pihak yang berada di ruang lingkup kerja, contohnya dokter, jurnalistik serta lain sebagainya.

Etika profesi ini berperan ialah sebagai sistem norma, nilai, serta aturan profesional dengan secara tertulis yang dengan tegas menyatakan apa yang benar/baik serta apa yang tidak benar/tidak baik bagi seorang profesional. Dengan kata lain, tujuan dari etika profesi ini ialah supaya seorang profesional tersebut bertindak sesuai dengan aturan serta juga menghindari tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi.

ETIKA
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen P dan K, 1988), etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti sebagai berikut.

  1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
  2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
  3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan/masyarakat.

xe

XE1

Nilai-nilai etika harus diletakkan sebagai landasan atau dasar pertimbangan dalam setiap tingkah laku manusia termasuk kegiatan dibidang keilmuan.

PROFESI
Profesi berasal dari kata bahasa Inggris profesion , bahasa latin professus yang berartikan mampu atau ahli dalam suatu pekerjaan suatu profesi iyalah suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi, biasanya meliputi pekerjaan mental yang ditunjang oleh kepribadiaan serta sikap profesional.

Fungsi Etika Profesi

  1. Sebagai pedoman bagi seluruh anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang ditetapkan.
  2. Sebagai sebuah alat kontrol sosial bagi masyarakat umum terhadap profesi tertentu.
  3. Sebagai sarana untuk dapat mencegah campur tangan dari pihak lain di luar organisasi, terkait hubungan etika didalam keanggotaan suatu profesi.

Tujuan Etika Profesi

  1. Untuk menjunjung tinggi martabat suatu profesi.
  2. Untuk menjaga serta juga mengelola kesejahteraan anggota profesi.
  3. Untuk dapat meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
  4. Untuk membantu meningkatkan mutu profesi.
  5. Untuk meningkatkan pelayanan profesi itu di atas keuntungan pribadi.
  6. Untuk menentukan standar baku bagi profesi.
  7. Untuk meningkatkan kualitas organisasi menjadi lebih profesional dan juga terjalin dengan erat.

Prinsip Dasar Etika Profesi

Prinsip Tanggung Jawab
Tiap-tiap profesional itu harus bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pekerjaan dan juga terhadap hasilnya. Selain dari itu, profesional juga bertanggung jawab atas dampak yang mungkin terjadi dari profesinya bagi kehidupan orang lain atau juga masyarakat umum.

Prinsip Keadilan
Tiap-tiap profesional itu dituntut untuk mengedepankan keadilan dalam menjalankan pekerjaannya. Dalam hal tersebut, keadilan itu harus diberikan kepada siapa saja yang berhak.

Prinsip Otonomi
Tiap-tiap profesional itu mempunyai wewenang serta juga kebebasan dalam menjalankan pekerjaan sesuai dengan profesinya. Artinya, seorang profesional tersebut berhak untuk dapat melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan mempertimbangkan kode etik profesi.

Prinsip Integritas Moral
Integritas moral ini merupakan kualitas kejujuran serta prinsip moral dalam diri seseorang yang dilakukan dengan secara konsisten dalam menjalankan profesinya. Artinya, seorang profesional tersebut harus memiliki komitmen pribadi untuk dapat menjaga kepentingan profesi, dirinya, serta juga masyarakat.

APA PERBEDAAN ANTARA ETIKA DENGAN ETIKET BISA DIBACA DISINI


2 Comments

  1. Dear Pak Endang,

    1. Apakah Istilah etika profesi dan etika bisnis itu sama pak?
    2. YA > Antara etika dengan mahasiswa memiliki hubungan yang sangat erat. Etika sangat berperan penting terhadap diri mahasiswa, dengan etika mahasiswa dapat berperilaku sopan dan santun kepada semua orang, misalnya di saat mahasiswa berdemonstrasi, etika menjadi sebuah alat kontrol yang dapat menahan mahasiswa agar tidak bertindak anarkis.
    3. Saya mengikuti perkuliahan iLearning ini sudah 1 semester, dan MK etika profesi ini adalah MK yang saya ambil di semester 2.
    karena metode pembelajaran iLp ini bisa di katakan tidak pernah tatap muka untuk pembahasan materi..
    menurut saya baiknya setiap materi atau setiap pertemuan di adakan tanya jawab untuk membahas suatu materi di setiap pertemuan, karena di sini mahasiswa/i dapat mengeluarkan pendapat seperti halnya berinteraksi langsung di kelas yang langsung di respon Dosen ataupun teman sekelas..

    mohon di Resp pertanyaan dan pendapat saya Pak..
    Terimakasih 🙂

    • 1. Jika berbicara “istilah” Etika Bisnis dgn Etika Profesi secara simantik (kebahasaan) memang beda, tetapi secara substantif antara keduanya tidak ada perbedaan karena keduanya berbicara tentang “etika” yang senantiasa berhubungan erat dengan (moral, tanggung jawab, profesionalisme, skill, knowledge, attitude*), dengan demikian baik bisnis atau profesi akan senantiasa mengandung dan berkaitan erat dengan (*). Contoh konkrit, “pencuri-pembunuh” ada yang memberi predikat sebagai Pencuri Profesional, Pembunuh Profesional, apakah keduanya ini layak disebut dan termasuk manusia bermoral, bertanggungjawab dan diberikan predikat PROFESI untuk perbuatannya? Mungkin faktor Skill, Knowledge mereka punya, tetapi faktor lain dari ciri seseoarang disebut Profesional dapat dikatakan tidak mereka miliki. Apakah perbuatan mereka boleh dianggap sebagai PROFESI sama dengan Dokter, Pengacara, Guru, Programer IT dan profesi-profesi lainnya? Begitupula dengan bisnis, bisnis jika tidak dijalankan secara profesional, tidak bermoral, tidak bertanggungjawab, orang berbisnis narkoba, berbisnis curang tetap mereka akan mengaku saya “Berbisnis” tetapi apakah mereka bermoral, bertanggungjawab, punya attitude baik? Tentu tidak. Disitulah aspek ETIKA berperan dan mempunyai persamaan-persamaan antara Profesi dengan Bisnis. Kita tidak pernah mendengar atau membaca ada Etika Pencuri, Etika Koruptor, Etika Pembunuh Bayaran, Etika Pengedar/Pedagang Narkoba. (Note : Pencuri, Koruptor, Pembunuh itu merupakan “act” bukan “worked”, “kerjanya” mencuri, “kerjanya” korupsi, “kerjanya” membunuh, “kerjanya” berjualan narkoba, itu semua bukan pekerjaan hanya tindakan dan tidak ada kaitan dengan profesi atau bisnis).

      2. Konsep KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di iLP atau kelas tatap muka pada prinsipnya semuanya sama, yaitu antara peserta didik (mahasiswa/pelajar) dan nara sumber (dosen/guru)semua harus berperan aktif, interaktif (dua arah), justru di iLP (non tatap muka) peran keaktifan mahasiswa harusnya menjadi lebih dominan, bukan hanya bersifat “duduk manis” menunggu instruksi mengerjakan assignment dll, jika sumber (bahan ajar) sudah disajikan di iDu atau di iMe, sewajibnyalah mahasiswa mempelajarinya jika ada yang tidak tahu atau tidak dimengerti secara kritis harusnya dikomunikasikan (dalam bentuk pertanyaan) lebih dari itu sikap kritis mahasiswa adalah selalu mau berusaha membandingkannya dengan sumber dan dari referensi lainnya (artinya mahasiswa tidak bergantung dari satu sumber bahan ajar yang sudah disediakan dosen) tapi berupaya untuk menggali dari sumber lainnya, dengan kata lain dosen disini berperan sebagai “motivator dan fasilitator” agar mahasiswa memiliki kemampuan berfikir kritis dan proaktif (bukan reaktif). Seharusnya bukan dosen memberikan pertanyaan tetapi justru mahasiswa meng “create” pertanyaan-pertanyaan yang kritis ditujukan ke dosen, dari situ muncul “komunikasi dua arah” seperti yang diharapkan, OK. (Contoh kecil saja mungkin kasus ini saya anggap cara berkomunikasi menjadi kurang efektif, mengapa harus melalui iMe? bukankah kita memiliki RINFO sebagai sarana komunikasi dalam berinteraksi menjalankan kelas iLearning dan iLearningPlus?) Cari yang sederhana namun mengena.

Leave a comment

August 2016
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives